Mengawal Seperti Babi Ngepet (The Power Of Sholawat)

Assalamualaikum Wr. Wb.
Salamku pada para pencinta keajaiban....

Siapakah yang percaya dengan keajaiban?
Aku percaya kawan

Beberapa kali aku merasakannya...
Mungkin hatiku beku, kiranya sudah ribuan keajaiban yang datang padaku

Apakah kau pernah merendahkan hatimu untuk merasakan keajaiban itu?

***

Hembusan nafas kita, denyut jantung kita, kedipan mata, gerakan jari kita yang senantiasa kita lakukan sehari-hari pun adalah keajaibanNya bukan...
Maka nikmatNya mana lagi yang kau dustakan.

***

Kala itu suamiku ingin berjuang mendapatkan beasiswa.
Aku berpikir apa yang bisa aku lakukan untuk meringankan beban suamiku yang akan, dan sedang berjuang untuk meniti ilmu agar kedepan bisa meningkatkan derajat keilmuannya dan meningkatkan kesejahteraan keluarga kami.

Yang bisa kulakukan kali ini adalah 'mengawal' suami.

Kegiatan yang aku lakukan persis seperti konsep 'Babi Ngepet'.
yang mana kalo Babi Ngepet itu suami pergi ngepet mencari uang dengan menjadi babi untuk mengambil uang orang lain, kemudian sang istri berada di rumah sambil menjaga nyala lilin tetap berkobar, alih-alih lilin tersebut adalah nyawa suaminya yang sedang ngepet diluar mencari uang.
Terdengar horor tapi kuambil konsep 'mengawalnya'

***

PROPOSAL BEASISWA S3
Mengawal suami melewati fase penting untuk keluarga kami dimulai pada tahun 2016. Tahun tersebut adalah moment bersejarah suami untuk mendapatkan beasiswa S3 Dual Degree dengan ETH Zurich-Swiss.

Tahun itu suami ditawari oleh dosennya untuk mengejar beasiswa OPAL (Oil Palm Adaptive Landscape) yang merupakan kerjasama antara dua negara Indonesia-Switzerland. Mataku berbinar mendengar kabar itu, tapi suami merasa tidak pede di Bahasa Inggris nya. Aku tau bahwa Oil Palm bagian politik sumber daya lahan dan konflik sosial adalah area kebisaan suami. Kami pun bersepakat dengan keputusan untuk berusaha mendapatkan beasiswa itu. Suami mulai membuat proposal Bahasa Inggris dengan tertatih tapi pasti. Bergadang tiap malam demi proposal menjadi hari-harinya.

Akupun cawe-cawe menghubungi kawan yang bisa mengajari suami untuk latihan presentasi dalam bahasa asing. Singkat kata suami mulai latihan presentasi dilatih oleh temenku itu. Dan berlatihlah suami secara SKS demi presentasi di depan dosen promotor dan dosen bule-bule.

Hari H presentasi proposal. Suami pergi ke Bogor untuk mempresentasikan proposalnya kepada 1 promotor dari Indonesia dan 2 Promotor dari luar negeri. Sedangkan aku di Jakarta, di rumah lama kami. Aku mulai 'mengawal' suamiku dengan bertirakat, merendah, menunduk kepada Sang Pencipta.

Dimulai dengan puji-pujian nama baik Tuhan. Kemudian aku memohon ampun atas semua dosa di masa lalu, masa kini, baik yang disengaja maupun tidak. Dilanjut dengan berdoa atas hajatku, hajat suamiku, dan hajat keluargaku ini.

Pada jam suami presentasi, kuulang-ulang nama-nama baik Tuhan yang ada 99 itu sampai aku lupa nominal keberapa aku berhitung. Bibirku komat kamit seperti membaca mantra. Puji-pujian dan doa terus mengalir sepanjang suami ujian, hingga mataku lelah karena kantuk. Jari tak dapat menampung sudah kali keberapa pujian yang kuucapkan. Hanya pujian kepada Tuhan yang terus aku bisikkan. Terus.... hingga saat jam suami selesai presentasi akupun istrirahat.

Itulah caraku "mengawal", seperti babi ngepet, tapi sama sekali bukan menduakan Tuhan, aku memujiNya.

***

PENGUMUMAN
Tiba saatnya hari yang ditunggu menerima pengumuman beasiswa dan bersyukur kepada Tuhan akhirnya suamiku diterima menjadi mahasiswa lagi dengan strata doktoral. Aku merasakan seperti mendapat keajaiban yang menjadi nyata. Walaupun bukan aku secara langsung penerima keajaiban itu, tapi aku merasa lega, kepuasan terhadap diriku sendiri, bahwa aku berbuat semaksimal yang aku bisa untuk perjuangan suami, perjuangan keluarga, kala itu.

***

Suamiku berangkat ke Switzerland meniti ilmu disana. Aku bersama kedua anakku dan mamaku tinggal di Jakarta rumah kami, melanjutkan scene perjuanganku sendiri dengan suka dukanya demi masa depan keluarga yang lebih baik.

Aku menunggu dalam keharusan bersabar, dan harapan akan masa depan yang aku yakini.

***

UJIAN CPNS
Suami sudah mengabdi 8 tahun pada institusi pendidikan menjadi tenaga pengajar dan peneliti di bidang keilmuannya. Mengalami 5 tahun moratorium penerimaan PNS, harus bersabar menunggu secercah harapan atas nama 'Pembukaan CPNS'.

Tahun 2018 lalu dibuka penerimaan PNS lagi setelah moratorium sekian lama.

Mencari informasi tentang lowongan PNS jurusan suami adalah obrolan sehari-hari di rumah. Jurusan suamiku akhirnya membuka lowongan untuk dosen PNS. Bagi kami ini adalah saat yang ditunggu-tunggu untuk dapat memperjuangkan jabatan PNS. Bagaikan disiram seember kesempatan dan harapan, karena formasi jurusan keilmuan suami dibuka. Mataku berbinar-binar.

Sebenarnya bekerja di swasta pun tak masalah kawan. Tapi suamiku sudah meniti karir dari nol di institusi pendidikan ini dan sudah mengabdi bertahun-tahun lamanya, jadi menyandang status PNS adalah salah satu goal kami.

Runutan ujian untuk menjadi PNS adalah dimulai dengan ujian SKD yang digelar se-Nasional, lanjut ujian SKB yang disertai ujian tertulis, praktek mengajar, wawancara, dan lanjut tes kesehatan. Saat ini untuk hasil dari ujian SKD langsung diumumkan setelah semua peserta selesai mengerjakan, hari itu juga, karena sudah berbasis online. Suami mempersiapkan segala persyaratan keperluan CPNS dengan baik hingga suami lolos administratif dan berhak mengikuti ujian SKD. Ujian SKD ini dipersiapkan suami dengan belajar semaksimal mungkin, karena setelah sekian lama tidak berkecimpung dengan soal-soal SMA, otak harus direwind kembali.

Iya kan... soal-soal CPNS menurutku adalah soal-soal jaman SMA ditambah soal pengetahuan umum masakini. Kadang terpikir jika anak SMA yang mengerjakan soal seperti itu pasti lebih jago karena masih fresh, apa kabar aku yang sudah butek dengan soal materi SMA...hahaha... oke skip saja.

Saat ujian tiba, aku, sebagai istri, kembali 'mengawal' dalam perjuangan suami. Dimulai dengan puji-pujian kepada Tuhan. Aku terus mengucapkan 99 nama baik Tuhan, aku juga sampaikan sholawat kepada junjungan nabi Muhammad SAW. Tidak lupa aku selipkan doa, keinginan keluarga kami, permohonan kami kepada Tuhan YME. Disela-sela itu aku menjalankan sholat sunnah Dhuha, dan dilanjut dengan sholawat nabi. Aku bisikkan terus menerus dan berulang. Bibir ini terus merenda doa. Tak lepas pula doa dan restu yang kupinta dari ibunya suami alias ibu mertuaku untuk kelancaran segala urusan baik anaknya.

Sambil menunggu kabar dari suami aku tetap mengawalnya. Setelah suami selesai mengerjakan dan keluar hasil ujiannya dia menelpon.
Suamiku telepon untuk memberi kabar bahwa dia tidak lulus ujian.

Rasanya nyess..kawan, tapi aku tau bahwa suamiku telah berupaya semaksimal mungkin.
Aku pasrah karena yakin bahwa Tuhan pasti tau apa yang kita kerjakan. Seperti kutipan dari tulisan pak cik Andrea Hirata di salah satu novelnya "Tuhan tau tapi menunggu" begitupulalah keyakinan dalam hatiku. Pasti suatu saat kita akan masuk PNS dengan cara yang lain... begitu kataku pada suami. Aku tetap bersholawat.

Sholawatku mengharap jalan lain untuk bisa jadi PNS.

Aku membeli alat ini untuk (terkadang) mengukur sholawatku

Tiga hari berlalu setelah suami tidak lulus ujian SKD. Suamiku pulang dengan membawa berita karena tidak ada yang lolos ujian SKD saat itu, maka akan diambil 3 orang peringkat teratas untuk diikutkan ujian selanjutnya, yaitu ujian SKB. Dan aku kembali berharap. Aku bersholawat.

Sholawatku ya di rumah, di jalan, di sekolah sambil nunggu anak-anak, pada saat sehabis sholat, saat ngebekelin anak, mencuci piring, menyapu, saat motoran, saat nyetir mobil, saat nyuapi anak, dimana pun kapan pun. Terkadang ku pakai alat hitung seperti punya para pramugari di pesawat untuk sekedar melihat, mengukur seberapa banyak sholawat yang bisa kulakukan sehari.

Sekian hari berlalu, aku kaget dengar berita dari suamiku bahwa ia lolos untuk mengikuti ujian selanjutnya (SKB). Suami masuk peringkat 3, puji syukur aku panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, aku sampai menitikkan air mata bahagia dan tidak percaya. Keajaiban terjadi lagi. Suamiku pun mengatakan bahwa ini keajaiban. Selanjutnya suami mengikuti SKB.

Ujian SKB ini menurut penglihatan logikaku, suami akan berada pada posisi aman. Pertama, dia akan mengerjakan soal-soal yang ia geluti selama ini, yang mana area kebisaanya. Kedua, selama 8 tahun mengabdi, ditambah 4 tahun menjadi mahasiswa S1 di institusi tersebut dibarengi menjadi asisten dosen hingga tahun 2018, kuyakin para dosen mengenal gaya mengajar suami, kebisaanya, hingga karakter suami. Bagiku saat terkritis dalam CPNS ini yaitu ketika ujian SKD.

***

PENGUMUMAN
Bulan Januari 2019 merupakan bulan yang diharap-harap karena pengumunan kelulusan PNS. Perasaanku lebih tenang daripada ujian SKD waktu itu.

Aku dapat kabar dari suami bahwa ia lolos menjadi PNS, puji syukur kupanjatkan kepada Allah Tuhan Semesta Alam, akhirnya suami bisa memantapkan hati menjadi pengajar, dan peneliti di bidangnya.
Alhamdulilah...

***

Begitulah keajaiban yang kurasakan sendiri mengalir jelas dalam scene hidupku dari "mengawal bersama sholawat".
"The Power of Sholawat"
Bersholawat ini aku lakukan didorong dari salah satu kawan ku selalu mendengungkan tentang sholawat.

Salam dan doaku kepada kawan-kawan baikku yang terus saling belajar dan mengingatkan dalam kebaikan.

Kawan, kau pasti akan kaget jika kukisahkan bagaimana aku bisa tinggal di rumah yang kudiami saat kutuliskan ini. Semuanya tentang keajaiban.

***

Sampai jumpa pada keajaiban mu sendiri... jika kau percaya ...

***

Bogor, 3 Maret 2019

Mak Mul

26 komentar:

  1. MasyaAllah... ceritanya indah mbak. Pengen nangis... Saya pernah mengalami hal serupa. Kadang memang duluar nalar manusia tapi Allah lah yang Maha Mengatur 😘😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada matematika manusia, ada matematika Tuhan ya mba... bisa binggung sendiri mba klo dipikir2..hehe 😘😘😘

      Hapus
  2. Luar biasa pengalamannya. Mirip mirip dengan pengalaman saya. Bedanya kalau suami saya masuk PNS dari kategori 2 (K2) yang sudah sekian belas bahkan puluhan tahun mengabdi menjadi guru

    Meski suami batu menjabat honorer 9 tahun, Alhamdulillah berhasil lolos dan tahun 2016 diangkat PNS.

    Kita sebagai istri memang harus mendukung suami khususunya agar tetap mencari nafkah di jalan yang diridhoi Nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah perjuangan kaliaan mba.. trs saling mendukung biar selalu kuat mbaa...
      Berkah selalu buat keluarganya....

      Hapus
  3. Selalu terharu baca cerita-cerita seperti ini. The power of sholawat itu nyata. Saya juga pernah membuktikannya saat tes beasiswa S1 dulu. Btw, selamat ya, Mbak. Rezeki nggak akan ke mana. Apa yang sudah diperuntukkan bagi kita akan selalu datang ke kita, bagaimanapun caranya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow pernah juga ngerasain keajaibanNya ya...
      Jgn lupa selalu ikhitar ke bumi dan langit

      Hapus
  4. ikut seneng bacanya, aku pun dulu gitu, waktu suami ujian cpns, aku ngawal terus, malah ujian kemana pun aku ikut dan aku tungguin, alhamdulillah suami lolos d beberapa kementrian, tapi memang di akhir harus memilih satu instansi aja. Dan kemarin pun suami ujian beasiswa S2 alhamdulillah aku ngawal aja deh, hehe. Dan alhamdulillah dapet beasiswanya, mudah2an lulus tepat waktu, amiimm

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ya robbal alamin... semoga lancar mba dan suami...
      saling menguatkan

      btw suami malah lulus di 2 kementrian yaa....😍
      masyaAllah hebat euy

      Hapus
  5. masya allah aku jadi tergerak ikutan sholawat lebih sering mbak.jadimembakar semangat bahwaAllah itu nyata dan selalu adabagi yang bersungguh sungguh

    BalasHapus
    Balasan
    1. nyataah buka fatamorganaah...hehehe...
      bener bgt asal kita mau lebih mendekat...
      dan ikhtiar trs di bumi dan ke langit

      Hapus
  6. Ya ampun kirain apaan ,pengawal babi ngepet.

    Shalawat bentuk pengingat akan sang pencipta nya maka sang maha esa akan memberikan hadiah yang pernah kita tidak duga dan sangka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mpo... benar sekali...
      pikiran manusia gak menjangkau pikiranNya kan....

      Hapus
  7. Unik juga bunda memperumpamakan perjuangan bunda mengawal suami seperti konsep babi ngepet. Jadi penasaran kenapa harus konsep itu bukannya konsep yang lain? Apapun itu di dalam cerita ini, saya acungi jempol untuk mba yang dengan sabar mendapampingi suami untuk mengejar mimpi-mimpinya. Pasti itu bukanlah yang mudah. Semoga Allah memberikan keikhlasan dan kesabaran untuk kita ya bun dalam memberikan yang terbaik untuk suami. Termasuk di dalam perjuangannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mba biar sedikit unik...

      mengangkat 2 hal kegiatan yg bertentangan...

      Terima kasih bunda... semoga perjalanan hidup kita sbg istri/ibu/apapun peran kita selalu diberkahi

      Hapus
  8. The power of shalawat itu benar-benad kekuatan mbak, saya termasuk orang yang percaya pada keajaiban dengan doa dan atas bantuan Allah semua bisa terwujud.

    BalasHapus
  9. Saya percaya sekali dengan kekuatan doa dan sholawat.
    Hasilnya memang seperti sebuah keajaiban.
    Selagi kita terus berusaha, Allah akan mewujudkannya :)
    Terimakasih untuk sharingnya, mba..

    BalasHapus
  10. Sharing yah mengena mbak, daku pun ikutan tadinya ikutan tes cpns, cuma nggak jadi haha, karena ada event blogger

    BalasHapus
  11. Kalau cuma baca judul duh apaan sih ini. eh pas baca MasyaAllah.. terharu. makasih sharenya mbak.

    BalasHapus
  12. Iya bener kak sebagai istri yg Kita lakukan berdoa dn trs berdoa memberikn srmangat alhamdulillah dpt pljrn yg di ambil sgl sesuatu klo dserahkn sm Allah pasti maksimal y kak

    BalasHapus
  13. Masya Allah..memang setelah menikah cita-cita jadi untuk keluarga ya Mbak..termasuk doa.
    Salut dengan perjuangan berdua.. Semoga dimudahkan dan dilancarkan selalu ke depannya. Aamiin
    Jadi sekarang posisi suami kuliah di Switzerland atau menempuh CPNS mbak, maaf saya bingung dengan urutan ceritanya

    BalasHapus
  14. Masya Allah... Semoga mbak dan keluarga selalu diberi kelancaran dalam menjalankan aktivitas dan rencananya. Aku perncaya sekali dengan kekuatan doa tidak ada yang tidak mungkin

    BalasHapus
  15. MasyaAllah, Mbak benar-benar mengawal Suami dalam setiap langkahnya. Semoga selalu berkah ya Mbak. Selamat tuk Suaminya yg lulus CPNS, semoga semuanya dimudahkan. Benar-benar ya the Power of Shalawat ini. :)

    BalasHapus
  16. Sebagai istri memang sudah jadi tugas kita ya, mbak untuk mendukung dan mendoakan suami agar dimudahkan segala langkahnya. Dan pastinya kemana lagi kita meminta kalau bukan pada Allah swt

    BalasHapus
  17. Ternyata sesuatu diluar nalar pun akan bisa terjadi dengan kekuatan usaha dan doa ya mbak. MashaAllah, sungguh aku terharu membacanya. Selamat ya mbak atas segala milestone keluarga mbak. Semoga Allah memberkahi keluarga mbak.

    BalasHapus
  18. Subhanallah, bacanya degdegan. Etapa besar kekutan dari bersholawat itu ya mbak. Aku juga pernah mengalami hal ini. Ketika suami lagi dibawah, belum punya pekerjaan, aku selalu berdoa disetiap shalatku, sempat dapat pekerjaan tapi gak lama krn di jahili temennya, tiba-tiba dapat kabar kalau dia di terima di perusahaan besar yg selalu aku sebut dalam doaku. Alhamdulillah..

    BalasHapus
  19. Percaya. Aku sangat percaya keajaiban yang terjadi atas izin Allah. Beberapa hal yang aku alami juga merupakan keajaiban buat aku.

    BalasHapus

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ^^