Ayah Merawatku dalam Imajiner


Ayah.... adalah cinta pertamaku dan sangat indah. Darinya aku sering mendengar cerita masa kecilnya di kampung dan keajaiban-keajaiban dia bisa tinggal di Jakarta, bersekolah, menjadi Pegawai Negeri Sipil, dan  mengajar di salah satu Perguruan Tinggi. Ayahku seorang yang humoris, tapi melankolis.... sering aku pergoki ayah menangis dalam sholatnya, pernah juga waktu sungkeman ke eyangku kala Idul Fitri. Melihat ayah menangis, hatiku selalu terasa sesak dan air mata sudah memenuhi mataku, tapi kutahan tidak menangis.

Dibandingkan ibuku yang tegas dan disiplin, ayah lebih 'longgar'. Aku boleh tidak tidur siang, main dari siang sampai magrib.... hahaha.... jajan di pinggir jalan, nongkrong di warung tempat abang-abang ojek minum kopi, ikut ke bengkel, dan kegiatan lainnya. Walaupun aku perempuan, aku sangat menikmati momen hang out bersama ayah, bagiku terasa lebih maskulin, meningkatkan percaya diri, dan membangkitkan keberanian. Kami sering jajan soda susu di warung perempatan Jl. Minangkabau dekat Manggarai, Jaksel. Soda susu adalah minuman pertama yang luar biasa nikmat tiada tara bagiku... keren... rasanya ramai, ada rasa manis yang pekat, segar, dan nuansa seperti semut menggelitik di tenggorokan. Aaaahh.... menakjubkan! belum pernah aku minum itu bersama yang lain. Aku juga melihat ayahku menikmati setiap adukannya dan seruputannya. Mengaduk susu kental didasarnya sedikit demi sedikit dan memberikannya air soda... wuuusssssss...sss..sss... Dia menegak soda susunya, air keluar dari hidungnya, dan dia menengadahkan kepala agar air tidak keluar lagi dari hidungnya, aneh bagiku, kulihat ayah biasa saja. Begitu terus ketika dia minum.

Ayahku mengajarkan tentang perjuangan dari cerita masa kecilnya, mengajarkan kesabaran, pengorbanan, dan sifat kebapakannya yang tak lekang dari ingatanku. Sedari aku kecil dia memberitahuku supaya jadi anak yang rajin sekolah. Dia selalu bilang semenjak dia SD selalu rangking 1. Dalam hatiku bilang betapa bangganya aku memiliki ayah yang seperti ayahku.

Kebiasaan yang sering dilakukan ayah di malam hari adalah  sholat disampingku sebelum tidur. Aku tiduran di kasur, ayah sholat di samping ranjangku. Kumelirik, melankolisnya keluar. Menangisnya selalu. Dari situ aku belajar jika sholat harus menangis. Subuh aku selalu minta dibuatkan susu buatan tangan ayah. Harus ayah, tidak mau yang lain, karena jika pagi hari ibuku harus selalu tidur disampingku sambil memelukku. Jadi biarkan ayah saja yang buat susu.

***

Akhir-akhir ini ayahku lebih sering di rumah, tidak kerja,  hanya pergi sekitar 3 jam dan balik ke rumah. Aku berpikir kesian sekali ibuku pergi bekerja sementara ayahku lebih banyak berada di rumah bersamaku. Tapi tak mengapa, justru bagus karena siang hari selalu ditemani ayah. Sebelum kami tidur siang, ayah selalu cerita, cerita tentang apa saja. Kali ini dia cerita tentang mimpinya. Dia mimpi bertemu dengan malaikat yang tinggi dan besar. Entah mengapa aku membayangkan seperti bayangan siluet hitam tinggi dan besar. Ketika malaikat datang kepadanya angin berhembus kencang dan dingin, ayah bergidik, ketakutan. Aku menasehati:

"Gak usah takut Yah, justru seneng donk didatangi malaikat. Itu artinya ayah orang baik."

Ayahku diam sesekali memperhatikan aku teman curhat ciliknya. Dan kami tidur berpelukan. Kulihat ayah mengusap kedua matanya. Sesak kurasa, kutahan airmataku. Aku melucu dengan cerita tidak jelas. Aku ingin selalu terlihat ceria di mata orang lain, terlebih mata di mata ayahku. Jujur, aku tak ingin melihatnya selalu mengeluarkan air mata. Seperti sudah kukatakan sebelumnya, teriris hatiku dan sesak napasku dibuatnya jika melihat air mata ayah.

***

Minggu ini ayah terlihat sibuk... bukan sibuk kerja seperti yang dilakukan ibuku melainkan sibuk ke dokter THT membersihkan telingga. Katanya biar pendengarannya bersih. Sibuk pula menguburkan kucingnya si Tongki yang mati. Tongki adalah kucing ayahku yang dirawat olehnya dari kecil sampai besar, entahlah sudah berapa tahun, kurang paham aku, yang jelas sudah lama kami punya Tongki, dari aku kecil. Aku juga tak tau penyebabnya kenapa Tongki mati, tapi aku juga sedih karena Tongki sudah menjadi bagian sehari-hari kami."Selamat tinggal Tongki..."

Ayah pergi ke tukang cukur untuk merapihkan rambutnya. Sepulang dari tukang cukur rapihlah rambutnya, bersih, terlihat segar. Seperti biasa siangnya kami tidur siang. Ayah bilang pengen ke makam bapak mertuanya di Wonogiri, yang mana adalah Eyang Kakung aku. Ayah juga bilang jika dia meninggal kelak makamnya tidak usah dikijing/dicor dengan batu seperti orang-orang Jawa kebanyakan. Ayahku ingin makamnya hanya undakan tanah yang diatasnya dikasih rumput saja. Aku bilang kenapa gak dikijing saja biar bagus. Kata ayah... nanti pada hari kiamat, tatkala Malaikat Israfil meniup Sangkakala, maka semua orang yang mati akan dibangunkan, dia tidak mau kepentok kijing makam, membuat susah keluar dari makamnya. Makanya dia ingin makamnya hanya tanah, rumput, dan nisan nama. Aku mengangguk, sepakat dengan perkataannya.

***

Aku sudah SMP... aku ingin punya banyak teman, ingin punya kekasih dan bisa haha hihi seperti teman-teman. Aku lihat teman-temaku acara kesana-sini. Tapi kenyataan lain, aku dari keluarga biasa-biasa saja, pergi-pulang sekolah naik mikrolet 34 jurusan Barkah-Kalibata, dan turun pas di depan sekolahku. Ingin sekali rasanya aku dijemput ayah ku pulang sekolah seperti temanku. Tapi kata ayahku, aku harus mandiri.

Sewaktu kelas 3 SD aku ke rumah sakit ayahku sendiri naik metromini. Aku bilang ke orang di rumah bahwa aku mau main kerumah teman. Aku pakai baju 'pergi' yang bagus bercorak tutul-tutul seperti macan tutul. Aku bawa tas kecil dan uang hasil menabung uang jajanku. Aku pakai sepatu sendal yang lagi hits  "Carvil". Aku nyebrang jalan raya dengan hati-hati, sabar menunggu kendaraan agak sepi. Lanjut aku naik Metromini 49 yang melewati RSCM. Aku bayar Metromini pakai uangku dan aku sampaikan kepada abang kondektur bahwa aku akan turun di RSCM. Sampai di RSCM aku turun dan menuju IRNA B dimana ayahku dirawat. Aku datang ke kamarnya, disana ada ibuku dan budeku, semuanya kaget melihat aku datang. Mereka bertanya kronologis kedatanganku dengan cemas, cuma ayahku yang senyum-senyum sambil berkata :
"hebat anak ayah sudah berani dan mandiri'
Senyum kemenangan kurasakan mengembang dari wajahku.

***

Aku 3 SMA diliputi perasaan campur aduk ingin melanjutkan kuliah. Apakah aku bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri dengan pesaing se-Indonesia. Aku belajar, ikut bimbel, ikut Try Out dimana-mana. Kata ayahku 
"ayah yang dari kampung aja bisa sekolah, kuliah, PNS. Kamu yang hidupnya jauh lebih enak harusnya bisa lebih hebat''

Aku tahajut memohon kelancaran cita-citaku masuk PTN karena untuk meringankan beban ibuku dalam menguliahkan aku. Sebenarnya ini alasan utamaku untuk masuk PTN., jurusan apa saja terserah.

***

Menurutku aku sudah dewasa, aku harus serius mencari pendamping hidupku. Karena selesai kuliah, aku harus cari kerja kemudian menikah, begitu titah ibuku. Aku sebal jika didikte soal jalan hidup dan jodoh. Tapi aku memang punya teman lelaki tapi belum terlalu dekat. Gayanya aneh tidak seperti anak muda yang ada dalam mind set ku. Dia yang bergaya seperti dosen, sifatnya kebapakan sekali, memakai celana bahan, kemeja rapih, bicaranya baku tidak seperti aku dan teman-temanku yang lain, senang berpidato, bisa menjadi imam sholat, bisa 'nukang' juga. Dan di senyumnya, aku lihat senyum ayahku.

***

Ayah, tidak lelahkah kau mengajariku kebaikan. Kau yang tak pernah ada saat ku beranjak dewasa, tapi kenapa kau melintas dipikiranku saat aku sedang lemah.  Kau yang tak pernah ada saat ku mencari pendamping hidupku, tapi kau jadi barometerku, supaya aku bisa mendapatkan suami yang bisa memperlakukan aku seperti yang kau lakukan. Ayah, kau yang tak pernah hadir dalam momen bahagiaku, bagi rapot, kenaikan kelas, kelulusan sekolah, masuk PTN, bahkan pernikahanku dengan temanku yang bergaya aneh itu..., tapi kenapa dalam sekelebatan otakku melukis wajahmu, dan aku tak mampu menahan air mataku lagi.

Ayah, andai saja aku masih remaja, akan ku buatkan untukmu masakanku sendiri. Ya sesimple itu... karena aku tau kau hobi kuliner, hobi makan... seperti dulu..., setiap kita hang out berdua atau bertiga bersama ibuku, pastilah tempat makan yang kita tuju. Dan aku paling ingat betul engkau minta dibuatkan jus alpukat buatanku sendiri, buatan tangan anak kelas 4 SD, umur 10 tahun. Sekarang, aku bersyukur karena mengabulkan permintaanmu kala itu. 

Malam itu kau meminta ijin ibuku untuk tidur sendiri di kamar. Aku penasaran dan mengintip ke dalam kamarmu, melihatmu bersimpuh memohon ampun pada Yang Kuasa. Entah berapa lama kau berlinang airmata aku tak tau, terlelap di kemalaman. Pagi harinya, kau senantiasa subuhan, lalu mandi, dan baca koran pagi. Teringat pagi itu jam 8, setelah kau rapih, kau masuk kamar untuk tiduran, dan tidurmu untuk selamanya, engkau pergi menghadap Illahi Robbi. Jumat, 1 Maret 1996.

***

Sekarang setelah dewasa, aku menemukan raport SD ayahku yang mana jauh api dari panggang. Jauh dari kata rangking 1, bahkan nilainya ada yang 'kebakaran'. Bukannya marah, ingin ketawa aku dibuatnya, ingin mengejek ayahku itu karena nilainya. Diam dan berpikir, aku merasakan maksut sebenarnya ayah adalah untuk memacuku jadi anak yang rajin belajar agar bisa berjaya sekolah dan kehidupan kelak. Dan, kala itu setiap air yang kau telan keluar lagi dari hidungmu itu karena kau sakit di bagian nasofarink mu. Kanker nasofarink. Aku juga paham bahwa dulu kau bukannya tidak bekerja. Kau sakit, jadi kau diijinkan cuti dari instansimu. Bahkan kau masih memberikan kami nafkah dari pensiunanmu.

Aku sudah merasakan manis dan getirnya hidup. Melihat orang-orang yang aku sayangi datang dan pergi selamanya. Aku tidak pernah berpaling. Ingatanku jelas, tetap setia melantunkan doa-doa untukmu ayah, tetap setia jadi anak yang selalu kagum padamu, selama 22 tahun ini. 

Andai saja aku tau semua yang kau lakukan diminggu terakhirmu adalah 'tanda-tanda' kepergianmu, aku akan berdoa pada Tuhan supaya kau diberi kesempatan hidup. Andai saja aku tau kau akan pergi selamanya...

Ayah, Hari Ayah Nasional jadi flashbackku untuk mengenangmu, memberikanmu lebih. Aku hadiahkan serangkaian doa yang indah, bukan... bukan..., separagraf-dua paragraf, aaah... bisa lebih kukira, doa indah untukmu ayah, lebih banyak dari biasanya tentunya, sebagai persembahan cintaku untukmu. Kaulah ayahku yang selalu membimbingku dalam ruang imajinerku.

Summa ila arwahi Endang Mursahid bin Surodiwiryo.... Alfateha
Allahummaghfirlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa robbayaa nii shoghiiroo....

Kenangan masa kecilku bersama ayah dan ibu

Makam ayah sesuai dengan keinginanya ada rumput dan nisan




Bogor, November 2018


anakmu
Mak Mul

#UpdateMBC
#TOBPNovember

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ^^